KUNCI SUKSES UPGRADE DIRI

Sang Pemberani
February 5, 2017
BAHAYA OPTIMIS BERLEBIHAN
February 10, 2017

Saya punya pertanyaan sederhana utk sahabat2ku semua. Apa yang mesti kita lakukan jika dalam perjalanan kita belajar mengharuskan kita belajar lagi pada murid kita, pada junior kita tentang sesuatu hal untuk menyempurnakan ilmu yang kita punya?
Sekilas kita akan langsung menjawab, tidak masalah lah kita akan belajar dari siapa aja. Termasuk dari bawahan atau junior kita.
Eiitss itu teori. Pada prakteknya akan berat sekali bagi kita untuk mau merendahkan hati kita berguru pada mereka yang posisinya lebih rendah dari kita. Berat bagi kita jika diharuskan menimba ilmu dari bawahan. Tidak semua dari kita mau dikritik dan dikoreksi atas apa yang sudah kita katakan dan putuskan.

Karena kita akan merasa orang yang mengkritik kita tidak menyukai kita atau menginginkan posisi kita. Apaan nih anak baru kencur main kritik-kritik aja, Sy sudah belasan tahun di dunia sales, sudah langganan meraih top salesman. Situ siapa? Baru juga masuk. (Dengan ekspresi wajah antagonis ala2 sinetron rcti)

Mungkin kata-kata seperti itu tidak sampai meluncur dari mulut kita. Tapi mungkin saja sudah berkecamuk dipikiran kita.
Wajar sekali koq kalo kita punya pemikiran seperti itu. Dalam diagram Maslow juga sudah dijelaskan, bahwa manusia secara alamiah butuh dipuji, diakui dan butuh diapresiasi.

Kita kadang tidak sepenuhnya menyadari bahwa kritikan dan koreksi dari bawahan adalah sebuah apresiasi positif, terlepas yang sudah seharusnya kita terima secara positif. Kemampuan untuk merendahkan hati dan mau belajar dari siapa saja inilah yang dinamakan Intellectual Humility.

Karakter ini akan tumbuh seiring dengan bertumbuhnya pengetahuan yang kita miliki. Menurut Aristoteles manusia memang memiliki desire of knowledges atau hasrat untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan. Intellectual Humility akan menjadi sebuah karakter yang akan membuat pengetahuan kita lebih cepat bertumbuh atau tidak.
Pengetahuan akan datang dari jalur mana saja. Bisa jadi seperti air yang mengucur dari atas kita, atau air yang menggenangi dan mengelilingi kita atau air yang membuncah dari bawah kita.
Jika kita tidak siap mengantisipasi semua arah datangnya pengetahuan tersebut, kita akan melewatkan banyak sekali peluang masuknya pengetahuan ke pikiran kita. Sikap kerendahan kita lah yang akan membuka lebar-lebar atau menyumbat sumber-sumber pengetahuan tersebut.

Ini bukan masalah kita saja sebenarnya, seorang filusuf terkenal di sebuah kelasnya di Cambridge University, G. E. Moore menceritakan bahwa kadang kepentingan kita akan status bisa menghalangi proses mengalirnya pengetahuan. Ia pernah dalam beberapa materi melakukan skip materi dimana ia tidak bisa menjelaskan transisinya secara logis, demi menjaga image jikalau ada sesuatu yang tidak bisa ia jawab. Dan tentu saja saya sebagai manusia normal pernah merasakan hal spt ini juga….(Ngaku)
Iya…status kadang menjadi alasan kita untuk kita proteksi dan lindungi. Jika kita punya karakter intellectual humility, kita akan meminimalkan hal-hal tersebut.

Karakter tersebut mutlak kita perlukan jika kita ingin menjadi seorang yang Jago alias ahli di bidang yang kita kuasai.
Intellectual humility akan menjadikan kita orang yang lapar akan pengetahuan, senantiasa mau belajar dari siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Kata mendiang Steve Jobs, Stay Hungry Stay Foolish, tetap merasa ‘bodoh’ dan ‘lapar’ agar kita selalu bernafsu memburu pegetahuan.
Be Excellent, stay Hungry, upgrade diri tiap hari….Be Grateful…. *Singing

Selamat berhari senin sahabat2ku semua

Adriano Giovani
(Excellent Improvement Trainer)
#DariAdri

Comments are closed.